Perkembangan Agama Katolik

Pertama kali agama Katolik masuk ke Indonesia berawal dari kedatangan Bangsa Portugis memasuki kepulauan Maluku. Saudara Gonzalo Veloso asal Portugis ini yang membaptis satu kampung di Maluku pada tahun 1534. Orang pertama yang dibaptis adalah kepala suku dan kemudian dibaptis seluruh warga kampungnya. Bangsa Portugis awalnya datang ke Indonesia untuk mencari rempah-rempah yang berharga. Penduduk diajak untuk bekerja sama dengan Portugis. Ada beberapa para imam Katolik yang juga ikut dalam pelayaran tersebut. Para imam itulah yang mulai menyebarkan injil kepada penduduk setempat. Salah satu penyebar injil Katolik yaitu Santo Fransiskus Xaverius.

Selama setahun Santo Fransiskus berkeliling mengunjungi pulau Ambon, Saparua dan Ternate dan ia berhasil membaptis beberapa ribu penduduk setempat dan juga http://agenbolaindo.net yang percaya akan injil yang diberitakan. Namun setelah kedatangan VOC di Indonesia pada tahun 1619 dampai 1799, VOC melarang keras gereja Katolik berkembang di Indonesia. Hanya di Flores dan Timor yang bertahan dari kecaman VOC saat itu. Maka perkembangan Katolik di beberapa daerah terhenti dan tidak berkembang. VOC yang menganut kepercayaan kristen menghentikan kegerakan katolik yang dibawa oleh Bangsa Portugis, mereka mengusir para imam-imam Katolik. Dengan berkuasanya VOC saat itu mulai masuk agama kristen dan banyak juga yang sudah beragama Katolik kemudian menganut agama protestan. Sampai tahun 1799 setelah VOC dinyatakan bangkrut dan bubar, agama Katolik mulai berkembang lagi.

Setelah itu Indonesia dijajah dengan Belanda. Belanda yang saat itu dipimpin oleh Raja yang menganut agama Katolik dan memiliki hubungan erat dengan Katolik Roma sangat mempengaruhi perkembangan ajaran agama Katolik di Indonesia. Dengan datangnya dua orang imam dari negeri Belanda yaitu Pastor Jacobus Nelissen Pr dan Pastor Lambertus Prisen, Pr mengawali perkembangan baru di Indonesia. Pada tahun 1889 kondisi mulai membaik dimana mulai ada 50 orang imam Katolik yang membimbing para umat Katolik di Indonesia. Di Daerah Istimewa Yogyakarta misi Katolik masih dilarang sampai tahun 1891.

Pada tahun 1896 Pastor F.Van Lith, Sj yang datang ke Muntilan membuahkan hasil yang memuaskan dengan membaptis 178 rombongan pertama orang jawa. Mereka dibaptis di mata air yang terletak di antara dua batang pohon sono, sampai sekarang menjadi tempat ziarah yang masih ramai dikunjungi. Mata air tersebut sekarang dikenal dengan nama Sendangsono. Tak hanya membaptis 178 orang, namun Romo Van Lith membangun sekolah guru di Muntilan, yang diberi nama Normaalschool pada tahun 1900. Pada tahun 1918 sekolah-sekolah Katolik yang dibangun mulai disatukan dalam satu yayasan dan diberi nama Yayasan Kanisius. Dibawah yayasan Kanisiuslah semua sekolah Katolik di bernanung dan saling membantu satu sama lain. Alumni siswa sekolah Katolik Muntilan beberapa menjadi Imam dan Uskup Katolik di Indonesia.

Tanggal 20 Desember 1948 Romo Sandjaja terbunuh bersama Frater Hermanus Bouwens, SJ di dusun Kembaran dekat Muntilan, ketika penyerangan pasukan Belanda ke Semarang yang berlanjut ke Yogyakarta dalam Agresi Militer Belanda II. Romo Sandjaja dikenal sebagai martir pribumi dalam sejarah Gereja Katolik Indonesia. Setelah penyerangan pasukan Belanda dan membunuh beberapa Romo justru malah membuat perkembangan Katolik semakin pesat dan banyak warga penduduk setempat dan anggota http://agenbola108.net yang melindungi para Imam Katolik. Pada pertengahan abad ke-20 gereja Katolik di Indobesia mulai berkembang dengan sangat pesat hingga hari ini. Dukungan dan kerja sama dengan Roma tetap terjaga hingga hari ini. Persaudaraan yang erat terjalin dengan baik membuat Katolik kokoh hingga hari ini.

Leave a Reply