Cerita Abraham Serta Sarah Bersumber pada Alkitab

Share this:

Cerita Abraham Serta Sarah Bersumber pada Alkitab – Tuhan mengatakan pada Hawa,” tetapi anda hendak asmara pada suamimu serta beliau hendak berdaulat atasmu”( Gen. 3: 16). Itu ialah bagian dari bobot kesalahan yang dijamin perempuan, serta ikatan suami istri selanjutnya dalam Alkitab melukiskan tunduknya istri atas perintah suami. Sarah 2 kali dipuji oleh pengarang Alkitab, yang awal sebab imannya( Heb. 11: 11) serta buat ketaatannya pada suami( 1 Pet. 3: 5, 6). Rasul Paulus lebih jauh mengatakan ia“ sedemikian itu patuh pada Abraham, alhasil memanggilnya tuan.”

Cerita Abraham Serta Sarah Bersumber pada Alkitab

Cerita Abraham Serta Sarah Bersumber pada Alkitab

globalpulsemagazine – Kita tidak berarti memohon para istri memanggil suaminya“ tuan”, terlebih dalam adat kita, tetapi mimik muka Sarah ialah metode membuktikan tindakan angkat tangan. Abnormal jika memandang 2 prinsip ini, kepercayaan serta patuh, sesungguhnya berjalan bersama. Ketaatan untuk para istri pada dasarnya kepercayaan yang Tuhan kerjakan lewat suaminya buat menggapai apa yang terbaik untuk istri. Serta seperti itu cerita kehidupan Sarah dengan Abraham.

Baca juga : Bimbingan Komplit Novena 3 Damai Maria Untuk Pemeluk Katolik

Memandang dikala dini bibit kepercayaan. Cerita diawali dari kota Ur, kota metropolis dekat garis tepi laut teluk Persia. Paling tidak satu orang menyangkal kesalahan deifikasi fetis diUr, sebab ia memahami Tuhan yang betul serta hidup. Faktanya, Tuhan sudah berdialog padanya:“ Pergilah dari negerimu serta dari ahli saudaramu serta dari rumah bapamu ini ke negara yang hendak Kutunjukkan kepadamu; Saya hendak membuat anda jadi bangsa yang besar, serta merahmati anda dan membuat namamu terkenal; serta anda hendak jadi berkah. Saya hendak merahmati banyak orang yang merahmati anda, serta menyumpahi banyak orang yang menyumpahi anda, serta olehmu seluruh kalangan di wajah alam hendak menemukan berkah”( Gen. 12: 1- 3). Bersenjata akad itu, Abraham mengutip efek, dengan bapaknya Terah, sepupunya Lot, serta istrinya Sarah, mengawali ekspedisi jauh keutara disekitar wilayah produktif kekota Haran.

Pindahan bukanlah mengasyikkan, paling utama dikala kamu pindahan dengan gamal ataupun keledai, serta pula dikala kamu tidak ketahui kemana kamu hendak berangkat!“ Sebab kepercayaan Abraham patuh, kala beliau dipanggil buat pergi ke negara yang hendak diterimanya jadi kepunyaan pusakanya, kemudian beliau pergi dengan tidak mengenali tempat yang beliau tujui”( Heb. 11: 8). Perihal itu bisa jadi lebih berat untuk perempuan dari laki- laki. Sarah tidak dituturkan dalam bagian itu, tetapi imannya terdapat disana, tiap titik setegar Abraham. Ia yakin Tuhan hendak menopangnya lewat ekspedisi ini serta membuktikan pada suaminya tempat yang sudah dipilihkan untuk mereka.

Sarah bukan yang perempuan yang lemas, sangat terkait, serta beranggapan kosong. Ibu dan bapaknya memanggilnya Sarai, serta julukan mempunyai maksud dalam bumi Alkitab. Namanya berarti“ istri raja.” Itu bisa jadi melukiskan keindahannya, yang ditulis 2 kali( Gen. 12: 11, 14). Itu bisa jadi melukiskan pula, pendidikannya yang besar, pembawaannya yang hening, serta prilakunya yang ayu. Dikala Tuhan mengubah namanya ke Sarah, maksudnya tidak berganti tetapi lebih menaikkan maksud kewanitaan. Ia dipanggil dalam kondisi“ bunda bangsa- bangsa”( Gen. 17: 15- 16).

Sarah seseorang perempuan yang cerdas serta memiliki keahlian. Tetapi dikala ia menikah dengan Abraham, ia membuat ketetapan. Ia membuat tujuan hidupnya dalam tugasnya menolong suami penuhi tujuan Tuhan dalam hidupnya. Itu bukan kelemahan. Itu ialah kemauan Tuhan dalam hidup Sarah: ketaatan yang betul. Beberapa istri dengan cara sistematik sudah menyabotase konsep Tuhan untuk suami mereka sebab mereka tidak mau yakin Tuhan serta percayakan diri mereka pada hikmatNya. Mereka cuma tidak yakin Tuhan bertugas lewat suami mereka buat menggapai apa yang terbaik menurutnya. Mereka merasa wajib membantu Tuhan lewat kekuasaan mereka atas suami.

Nampak jika papa Abraham menyangkal buat melanjutkan ekspedisi dikala mereka menggapai Haran. Ia seseorang pemuja penganut fetis( Josh. 24: 2), serta kota Haran cocok menurutnya buat menikmati sisa harinya. Ia menunda tujuan Tuhan untuk Abraham, tetapi ia tidak dapat memusnahkan segenap. Dikala Terah tewas, Abraham, dewasa 75 tahun, berangkat dari Haran ketanah yang Tuhan janjikan padanya( Gen. 12: 4). Itu ialah perpindahan kedua ketempat yang tidak diketahui, tetapi dengan terdapatnya Sarah disisinya, perempuan yang angkat tangan serta beragama( Gen. 12: 5). Hari- hari didepan hendak membuktikan ketaatan serta imannya dengan amat dicoba.

Ayo kita menyelidiki, kedua, pergumulan kepercayaan. Kepercayaan kilat berkembang dalam pergumulan. Orang yang berharap pada Tuhan buat melenyapkan perkaranya bisa jadi dipertanyakan kehidupan rohaninya. Kadangkala kepercayaan kita ditekan, tetapi bila kita membenarkan kekalahan serta menyambut pemaafan Tuhan, kekalahan itu dapat meningkatkan kerohanian kita. Abraham serta Sarah dipuji atas kepercayaan mereka dalam Alkitab, tetapi kekalahan mereka pula ditulis selaku ajakan serta penghiburan.

Serbuan awal tiba dikala mereka masuk Kanaan. Terdapat musibah didaerah itu serta Abraham menyudahi buat meninggalkan tempat yang telah Tuhan janjikan padanya serta berangkat ke Mesir( Gen. 12: 10). Bisa jadi ia telah bertanya dengan Sarah, serta ia telah membuktikan kebegoan keputusannya, tetapi semacam mayoritas laki- laki, ia senantiasa melaksanakan rencananya tanpa memikirkan kesusahan yang diimpor untuk si istri. Sangat banyak laki- laki yang menyangkal memohon ajakan istri. Mereka pikir kepemimpinan membagikan mereka hak spesial melaksanakan apapun yang mereka ingin tanpa membahasnya dengan istri serta setelah itu menyetujuinya bersama. Mereka khawatir istri dapat menciptakan kekurangan dalam pandangan mereka ataupun membuka keegoisan benak pendek mereka. Jadi mereka lalu menjalan kan konsep mereka serta semua keluarga mengidap sebab itu.

Dikala mereka didekat Mesir, Abraham mengatakan pada istrinya,“ Memanglah saya ketahui, kalau anda merupakan seseorang wanita yang menawan mukanya. Bila orang Mesir memandang anda, mereka hendak mengatakan: Itu isterinya. Jadi mereka hendak menewaskan saya serta membiarkan anda hidup. Katakanlah, kalau anda adikku, biar saya diperlakukan mereka dengan bagus sebab anda, serta saya didiamkan hidup oleh karena anda”( Gen. 12: 11- 13). Itu ialah aplaus untuk keelokan Sarah diusia 65 tahun senantiasa menarik alhasil Abraham berasumsi orang Mesir dapat berupaya membunuhnya sebab Sarah. Serta keindahannya tidak cuma dimata Abraham.“ Setelah Abram masuk ke Mesir, orang Mesir itu memandang, kalau wanita itu amat menawan, serta kala punggawa- punggawa Firaun memandang Sarai, mereka memuji- mujinya di hadapan Firaun, alhasil wanita itu dibawa ke istananya”( Gen. 12: 14, 15). Walaupun Abraham berasumsi orang Mesir dapat membunuhnya buat memperoleh istrinya, ia percaya mereka hendak memperlakukannya dengan terpandang bila mereka berasumsi jika ia adiknya. Serta itu betul. Mereka memberikannya banyak fauna serta abdi buat itu( Gen. 12: 16). Memanglah, Sarah merupakan kerabat Abraham, kerabat kualon( Gen. 20: 12). Perkawinan semacam itu tidak umum pada waktu itu. Tetapi yang mereka tuturkan pada firaun cuma separuh bukti, serta separuh bukti lagi dusta pada Tuhan. Ia tidak menghormati kesalahan.

Mengapa Sarah ingin menjajaki konsep ini? Bukankah dalam perihal ini ketaatan pada Tuhan melampaui ketaatan pada suami? Aku pula sepakat. Seseorang istri tidak bertanggung jawab patuh pada suami dikala ketaatan yang dimohon bertentangan dengan kemauan Tuhan( cf. Acts 5: 29). Sarah dapat saja menyangkal. Tetapi itu membuktikan daya kepercayaan serta ketaatannya yang sesungguhnya. Sarah yakin akad Tuhan jika Abraham hendak jadi bapa sesuatu bangsa yang besar. Sebab disitu belum terdapat anak, ia dapat dibelanjakan, tetapi Abraham wajib hidup serta mempunyai anak walaupun itu dari perempuan lain.

Ia pula yakin kalau Tuhan hendak aduk tangan serta melindungi ia saat sebelum aksi tidak beradab terjalin. Itu dapat terjalin memandang besarnya peliharaan Firaun. Ia pula yakin Tuhan hendak mempertemukannya kembali dengan suaminya serta melindungi mereka dari daya Firaun. Serta sebab ia yakin, ia angkat tangan. Tuhan dapat mencegah mereka dari keegoisan konsep Abraham, tetapi kepercayaan Sarah pada Tuhan serta ketaatan pada suaminya senantiasa dengan bagus ditafsirkan dalam narasi PL. Tes sesungguhnya dari ketaatan istri dikala ia ketahui suaminya membuat kekeliruan.

Baca juga : Alkitab Tentang Kristus Pergi ke Neraka

Susah dicerminkan seseorang orang melaksanakan perihal kecil semacam yang dicoba Abraham( Gen. 12: 18- 20). Ia kandas kepada Sarah, memasygulkan, tetapi Tuhan loyal padanya. Ia menghormati imannya serta menyelamatkannya. Ia tidak sempat melalaikan mereka yang yakin padaNya. Kamu bisa jadi berasumsi jika pelajaran dari Tuhan ini hendak mendalam dirasa dalam jiwa Abraham sehabis ini alhasil ia tidak hendak menjual istrinya buat mencegah dirinya. Tetapi ia melaksanakannya lagi. Dekat 20 tahun setelah itu ia melaksanakan perihal yang benar serupa dengan Abimelech, raja Gerar( Gen. 20: 1- 8). Ini membuktikan alangkah lemas serta kurang imannya. Bisa jadi terdapat sebagian kesalahan yang kita pikir tidak hendak melaksanakannya lagi, tetapi kita wajib hati- hati, sebab seperti itu metode belis melanda kita. Sesuatu perihal yang mencengangkan jika Sarah senantiasa angkat tangan kala perihal ini terjalin, serta Tuhan kembali menyelamatkannya, fakta lain dari kepercayaan serta ketaatan Tuhan.

Salah satu pengepresan hendak imannya diklaim dalam statment:“ Ada pula Sarai, isteri Abram itu, tidak bersalin”( Gen. 16: 1). Tuhan setelah itu mengganti julukan Abram ke Abraham, dari“ bapa yang ditinggikan” jadi“ bapa orang banyak”. Gimana ia dapat jadi bapa orang banyak tanpa anak? Saat ini Sarahlah yang melaksanakan rencananya. Ia menawarkan budak mesirnya, Hagar, alhasil Abraham dapat menemukan anak melaluinya. Kita wajib membenarkan jika usulannya membuktikan kepercayaannya jika Tuhan hendak loyal pada perkataanNya membagikan Abraham seseorang anak. Itu nyata dimotivasi oleh kasihnya pada Abraham serta ambisinya menemukan anak. Serta memberikan suami dengan perempuan lain ialah dedikasi besar menurutnya. Tetapi itu bukan metode Tuhan. Itu ialah salah satu pemecahan kedagingan. Serta metode Tuhan senantiasa yang terbaik apalagi dikala Ia menahan apa yang bagi kita, kita butuhkan dikala itu.

Amat kerap aksi kita menunda perihal itu serta melaksanakan bagi metode kita, kesimpulannya menyebabkan kesusahan besar. Bila kita berlatih buat senantiasa menyakini Ia dikala suasana kita nampak tidak terang, kita melindungi diri dari musibah.

Desakan kesalahan ini berakibat pada ikatan antara Abraham serta Sarah. Hagar berbadan dua serta jadi sombong serta tidak dapat diatur. Sarah mempersalahkan Abraham sebab perihal itu yang sesungguhnya idenya sendiri. Setelah itu ia menganggap Hagar dengan agresif, serta perihal itu membuktikan rasa pahit serta kekesalan jiwanya. Sedangkan itu, Abraham mengelak dari kewajiban. Ia semenjak dini sepatutnya mengatakan“ tidak” pada konsep berdosa Sarah. Tetapi saat ini ia mengatakan biar Sarah menanggulangi perkaranya sendiri, melaksanakan apapun yang Sarah ingin, supaya menyudahi mengganggunya mengenai perihal ini( Gen. 16: 6).

Itu amat susah untuk istri buat angkat tangan pada ampai- ampai, seseorang laki- laki yang menyangkal bertanggung jawab, melalaikan pengumpulan ketetapan, serta menjauh dari tanggung jawab. Tidak terdapat yang dapat ditaati, tidak terdapat kepemimpinan yang dapat diiringi. Seseorang istri tidak dapat membantu suaminya penuhi tujuan Tuhan untuk hidupnya dikala istri tidak ketahui apa tujuannya.

Apalagi orang yang hebat dalam kepercayaan mempunyai dikala kekalahan. Serta tidak terdapat yang lebih kurang baik dari dikala Abraham serta Sarah melecehkan Tuhan. Mereka berdua melaksanakannya. Tuhan berkata pada Abraham jika Sarah hendak jadi bunda dari bangsa- bangsa. Raja hendak timbul dari ia. Abraham tertunduk serta tersimpul, dan mengatakan,“ Mungkinkah untuk seseorang yang dewasa seratus tahun dilahirkan seseorang anak serta mungkinkah Sara, yang sudah dewasa 9 puluh tahun itu melahirkan seseorang anak?”( Gen. 17: 17). Abraham berupaya ajak Tuhan menyambut Ismael selaku pakar waris, tetapi Tuhan mengatakan,“ Tidak, melainkan isterimu Saralah yang hendak melahirkan anak pria bagimu, serta anda hendak melabeli ia Ishak, serta Saya hendak melangsungkan perjanjian- Ku dengan ia jadi akad yang abadi buat keturunannya”( Gen. 17: 19).

Selanjutnya kesempatan Sarah. Tuhan menampakan diri pada Abraham selaku pengunjung ditendanya, serta Sarah mengikuti ia mengatakan,“ Sebetulnya Saya hendak kembali tahun depan memperoleh anda, pada durasi seperti itu Sara, isterimu, hendak memiliki seseorang anak pria”( Gen. 18: 10). Ia menguping dipintu kamp serta tersimpul, mengatakan,“ Hendak berahikah saya, sehabis saya telah lesu, sebaliknya tuanku telah berumur?”( Gen. 18: 12). Tidak disengaja, inilah gimana Petrus dapat mengenali ia memanggilnya“ tuan”. Ketaatan terdapat, tetapi imannya ayun. Pergumulan kepercayaan jelas serta kita seluruh mendapatinya. Panah keragu- raguan dari setan kerap hal kita, serta kita kerap meragukan jika Tuhan dapat menuntaskan permasalahan kita.

Tetapi dapat kasih buat akhir yang ialah kemenangan kepercayaan. Aku yakin titik balik pergumulan kepercayaan mereka timbul sepanjang pertemuan dengan Tuhan.“ Kemudian berfirmanlah TUHAN pada Abraham: Mengapakah Sara tersimpul?”.“ Apakah ada suatu apapun yang tak mungkin buat TUHAN?”( Gen. 18: 13, 14). Tantangan itu menusuk batin mereka yang ragu, serta kepercayaan dibaharui, kokoh serta kuat. Terdapat kemunduran dikala di Gerar( Gen. 20: 1- 8). Tetapi pada dasarnya seluruhnya berlainan semenjak dikala itu.

Mengenai Abraham, rasul Paulus menulis,“ Imannya tidak jadi lemas, meski beliau mengenali, kalau badannya telah amat lemas, sebab umurnya sudah kurang lebih seratus tahun, serta kalau kandungan Sara sudah tertutup. Namun kepada akad Allah beliau tidak bingung sebab ketidakpercayaan, justru beliau diperkuat dalam imannya serta beliau memuliakan Allah, dengan penuh agama, kalau Allah berdaulat buat melakukan apa yang sudah Beliau janjikan”( Rom. 4: 19- 21).

Mengenai Sarah, pengarang Yahudi melaporkan,“ Sebab kepercayaan beliau pula serta Sara beroleh daya buat merendahkan anak cucu, meski umurnya telah melalui, sebab beliau menyangka Ia, yang membagikan akad itu loyal”( Heb. 11: 11). Kepercayaan mereka dinilai; Sarah menemukan anak serta menamainya Ishak, berarti“ tersimpul.” Serta Sarah berkata mengapa mereka menamakannya semacam itu:“ Allah sudah membuat saya tersimpul; tiap orang yang mencermatinya hendak tersimpul sebab saya”( Gen. 21: 6). tersimpul keraguannya jadi tawa kemenangan, serta kita dapat memilah bahagia dengannya.

Senantiasa terdapat permasalahan pada waktu depan untuk Abraham serta Sarah. Kehidupan kepercayaan tidak sempat leluasa dari halangan. Hagar serta Ismael senantiasa mempermainkan Ishak. Serta Sarah amat marah sebab itu. Dikala ia memandang Ismael mempermainkan sikecil Ishak, ia kehabisan kontrol. Ia mendobrak Abraham serta dengan marah menuntut,“ Usirlah hamba wanita itu bersama buah hatinya, karena anak hamba ini tidak hendak jadi pakar waris bersama- sama dengan anakku Ishak”( Gen. 21: 10). Apakah ini perempuan yang serupa, yang ditinggikan di PB sebab ketaatannya? Betul. Ketaatan yang segar tidak membatasi statment opini. Itu umumnya ketaatan yang sakit, yang biasanya dimotivasi oleh harga diri yang kecil(“ pendapatku tidak berarti apa- apa”), oleh kekhawatiran hendak kondisi yang tidak mengasyikkan(“ aku mau ketenangan berapapun biayanya”), ataupun oleh pengabaian tanggung jawab(“ biarlah orang lain yang membuat ketetapan; aku tidak mau disalahkan”).

Sarah paling tidak berkata pikirannya. Serta, ia betul! Mencampuradukkan tidak betul. Tetapi Ismael tidak hendak jadi pewaris bersama Ishak, serta Tuhan mau ia berangkat dari rumah. Tuhan mengatakan pada Abraham buat mengikuti Sarah( Gen. 21: 12). Bayangkan itu—walau Sarah marah, Tuhan mau Abraham mengikuti nasihatnya. Ia kerap memakai istri buat mengkoreksi suaminya, menasihatinya, mendewasakannya, membantu menanggulangi permasalahan mereka serta membagikan mereka penafsiran. Seperti itu manfaatnya pahlawan.

Beberapa suami kerap tidak menyangka istrinya, pemikiannya dirasa menggelitik serta pendapatnya tidak berharga. Suami yang melaksanakannya amat melalaikan istri. Ia kehabisan perihal terbaik Tuhan menurutnya. Bila istri berkata pada suami, terdapat permasalahan dalam perkawinan mereka, Tuhan mau ia mendengarnya—dengarkan evaluasi situasinya, dengarkan pergantian yang istri pikir dapat terbuat, dengarkan dikala ia berupaya memberikan perasaan serta kebutuhannya—kemudian jalani sesuati yang membuat dari perihal itu. Salah satu permasalahan dalam perkawinan Kristen era saat ini merupakan para suami sangat sombong buat membenarkan terdapat yang salah serta sangat keras genggam buat melaksanakan suatu mengenai perihal itu. Tuhan bisa jadi mau meneranginya lewat istri mereka.

Budak perempuan serta buah hatinya kesimpulannya berangkat. Ismael telah lumayan berumur buat sediakan keinginan untuk ibunya, serta Tuhan membagikan ia kemampuan memanah( Gen. 21: 20). Serta dengan perpindahannya, ketiga badan keluarga ini menikmati durasi perhimpunan yang bagus. Tetapi pencobaan yang sangat berat belum tiba.“ Sehabis seluruhnya itu Allah berupaya Abraham”( Gen. 22: 1). Itu ialah tes yang amat tidak umum. Tuhan mengatakan,“ Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang anda kasihi, ialah Ishak, pergilah ke tanah Moria serta persembahkanlah ia di situ selaku korban bakaran pada salah satu gunung yang hendak Kukatakan kepadamu”( Gen. 22: 2). Julukan Sarah tidak timbul dalam artikel ini serta kita tidak sering mengatakan serta mengulasnya. Tetapi ia tentu ketahui apa yang terjalin. Ia bisa jadi membantu menyiapkan ekspedisi itu. Ia memandang kusen, api serta pisau; ia memandang Ishak, serta ia memandang Abraham, kerutan beban hati terpancar didahi. Tetapi ia tidak memandang binatang korban. Alkitab mengatakan kalau Abraham yakin jika Tuhan dapat membangkitkan Ishak dari kematian( Heb. 11: 19). Sarah tentu yakin itu pula.

Ia melihat mereka lenyap dari pemikiran, serta walaupun batin keibuannya sirna, ia tidak keluhan. Itu bisa jadi penunjukan imannya pada Tuhan serta ketaatan pada kemauan suami yang terbanyak.“ Karena demikianlah triknya perempuan- perempuan bersih dulu berias, ialah perempuan- perempuan yang meletakkan pengharapannya pada Allah; mereka angkat tangan pada suaminya, serupa semacam Sara patuh pada Abraham serta melabeli ia tuannya. Serta kalian merupakan buah hatinya, bila kalian melakukan bagus serta tidak khawatir hendak bahaya”( 1 Pet. 3: 5, 6). Seseorang istri Kristen tidak butuh khawatir buat patuh dikala harapannya terdapat dalam Tuhan. Ia tentu loyal pada perkataanNya serta memakai ketaatannya buat menggapai apa yang terbaik menurutnya.

Sarah ialah salah satu perempuan yang dibahas Raja Lemuel, yang legal bagus pada suaminya serta tidak kejam pada era hidupnya( Prov. 31: 12). Seseorang perempuan cuma dapat jadi istri semacam itu dikala ia yakin kalau tidak terdapat yang susah untuk Allah, serta dikala ia yakin Tuhan dapat memakai apalagi keselahan suaminya buat bawa fadilat untuk DiriNya serta mengatakan untuk hidup mereka. Serta seseorang laki- laki dapat menemukan ketaatan istri semacam itu dikala ia berlatih menjajaki bimbingan Tuhan dari mengejar tujuannya yang individualistis, Ia ketahui jika mereka tidak memiliki keahlian buat menjamin peran kepemimpinannya. Itu cuma diserahkan Tuhan. Jadi ia menyambut keyakinan itu serta melaksanakannya dalam ketaatan penuh pada Tuhan serta dengan tidak individualistis memikirkan istrinya serta apa yang terbaik untuk istrinya.

Ayo kita bicarakan

1. Untuk suami: apa tujuanmu dalam hidup? Apakah kamu telah mengkomunikasikan perihal ini dengan istri kamu? Buat istri: dengan metode apa kamu dapat membantu suami kamu penuhi kemauan Tuhan untuk hidupnya?

2. Mengapa suami wajib mencari ajakan istri dalam ketetapan yang mempengaruhinya?

3. Dalam suasana semacam apa istri sangat susah buat angkat tangan?

4. Gimana Tuhan menginginkan istri bereaksi dikala ia merasa suaminya diluar kemauan Tuhan?

5. Buat istri: apakah terdapat area dimana ketaatanmu dimotivasi oleh harga diri kecil, khawatir hendak suasana yang tidak lezat, ataupun menjauhi tanggung jawab? Apa yang seharunya jadi dasar ketaatan yang segar?

6. Gimana metode suami memakai kedudukan atasan dalam mendesakkan jalannya? Apa yang mereka dapat jalani buat menjauhi perihal itu?

7. Sebab Tuhan memastikan suami dalam kedudukan atasan, apa tanggung jawabnya pada istri?

8. Buat istri: Gimana Tuhan mau kamu mengatakan opini serta kemauan pada suami? Buat suami: Gimana Tuhan harapkan kamu bereaksi dikala istri berupaya berbicara?